Kecemasan di Sekolah Negeri 72 Jakarta Pasca Ledakan Bom Molotov
Ledakan bom molotov yang terjadi di lingkungan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 72 Jakarta, Jumat (8/11/2025), siang hari menimbulkan kepanikan besar. Peristiwa ini terjadi saat pelaksanaan salat Jumat berlangsung di area masjid sekolah. Suara ledakan keras langsung mengguncang suasana, hingga terdengar dari luar area masjid.
Sela, seorang siswa kelas XI, menjadi saksi mata dalam kejadian tersebut. Ia menyebutkan bahwa ledakan berasal dari bom rakitan atau bom molotov yang diduga dibawa oleh salah satu siswa di sekolahnya. Sela mengatakan bahwa siswa tersebut dikenal tertutup dan sering menjadi korban perundungan oleh teman-temannya. “Saya menduga siswa ini ingin balas dendam dan bunuh diri. Tadi saya lihat ada tiga jenis bom, dan hanya dua yang meledak,” ujar Sela.
Ledakan pertama terjadi sesaat setelah khutbah Jumat selesai dan sebelum iqomah dimulai. Saat itu, suasana yang sebelumnya khusyuk langsung berubah menjadi hiruk-pikuk. Sela yang berada di selasar masjid tidak terkena ledakan, tetapi baju yang ia kenakan kotor karena membantu teman yang terluka.
Menurut Sela, aktivitas di sekolah pada pagi hari berjalan normal. Ia bersama teman-temannya mengikuti kegiatan Adiwiyata yang rutin dilakukan setiap Jumat pagi. “Tidak ada tanda-tanda aneh. Semua berjalan seperti biasa,” ungkapnya.
Salah satu guru, Toto, juga menjadi saksi di lokasi kejadian. Ia mengatakan bahwa dirinya berada di barisan belakang imam ketika mendengar suara ledakan yang sangat keras. “Semua langsung bubar. Sejumlah siswa berlari keluar dengan kondisi panik. Beberapa ada yang terluka di bagian tangan dan kaki,” ujar Toto. Guru tersebut sempat membantu mengevakuasi siswa yang terluka ke ruang UKS.
Pihak sekolah segera menghubungi pihak kepolisian dan petugas pemadam kebakaran. Tak lama setelah kejadian, area masjid langsung dipasangi garis polisi untuk penyelidikan. Hingga sore hari, petugas kepolisian masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa serpihan botol kaca, sumbu, dan cairan bahan bakar yang diduga digunakan sebagai bom molotov.
Beberapa saksi, termasuk guru dan siswa, juga dimintai keterangan untuk memperjelas kronologi kejadian. Kepala SMAN 72 Jakarta belum memberikan keterangan resmi, namun pihak sekolah menyatakan akan bekerja sama penuh dengan pihak berwenang.
Peristiwa ini membuat para orang tua siswa cemas dan mendatangi sekolah untuk memastikan kondisi anak mereka. Sebagian besar siswa yang mengalami luka telah mendapatkan perawatan di rumah sakit terdekat.
Kasus ini juga membuka kembali isu serius tentang perundungan di lingkungan sekolah. Para guru dan pihak komite sekolah berharap kejadian ini bisa menjadi pembelajaran bersama agar perundungan tidak lagi dianggap hal sepele. Kepolisian menegaskan penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan apakah benar pelaku membawa bom akibat dendam akibat perundungan.
Hingga berita ini ditulis, suasana di SMAN 72 Jakarta masih dijaga ketat oleh aparat keamanan. Kegiatan belajar mengajar sementara dihentikan hingga kondisi dinyatakan aman. Masyarakat di sekitar sekolah berharap kejadian serupa tidak terulang lagi dan lingkungan pendidikan menjadi tempat yang aman bagi seluruh siswa.






