DAILYRETORIKA.ID,Kalimantan selatan – Suasana penuh khidmat dan kehangatan menyelimuti pelantikan Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kalimantan Selatan. Pelantikan ini terasa istimewa karena dipimpin langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Fatayat NU, Margaret Aliyatul Maimunah, sekaligus menjadi momentum dibukanya Latihan Kader Lanjut (LKL) angkatan kedua.
Bagi Fatayat NU, pelantikan bukan sekadar pergantian kepengurusan. Lebih dari itu, ini adalah penguatan komitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat, khususnya bagi perempuan dan anak yang membutuhkan perlindungan dan pendampingan.
Dalam arahannya, Margaret menegaskan bahwa amanah kepengurusan harus dijalankan dengan kesungguhan dan kesadaran penuh akan tanggung jawab sosial organisasi.
“Fatayat NU adalah rumah besar bagi isu-isu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Teman-teman di daerah harus mulai lebih peka melihat persoalan yang ada di sekitarnya,” ujarnya.
Ia berharap Fatayat NU di semua tingkatan mampu bergerak seiring dengan pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan perempuan dan anak. Menurutnya, PW memiliki peran penting sebagai penghubung antara kebijakan pusat dan realitas di lapangan, agar cabang-cabang tetap hidup, bergerak, dan berjalan sesuai visi bersama.
Sementara itu, rasa haru dan syukur disampaikan Ketua PW Fatayat NU Kalimantan Selatan, Hilyah Aulia, yang menyebut pelantikan ini sebagai awal pengabdian yang lebih luas bagi perempuan di Banua.
“Alhamdulillah, hari ini kami dilantik dan dibaiat langsung oleh Ketua Umum PP Fatayat NU. Ini menjadi penyemangat bagi kami untuk bekerja lebih sungguh-sungguh,” tuturnya.
Hilyah menjelaskan bahwa Fatayat NU Kalimantan Selatan telah membentuk Lembaga Konsultasi untuk Pemberdayaan bagi Perempuan dan Perlindungan Anak (LKP3A) yang secara khusus bergerak dalam pemberdayaan perempuan dan anak. Melalui lembaga ini, Fatayat NU hadir mendampingi perempuan dan anak yang merasa terzolimi, mengalami kekerasan, atau tengah berhadapan dengan persoalan hukum.
“Kami ingin perempuan-perempuan di Kalimantan Selatan tidak merasa sendirian. Fatayat NU akan membersamai mereka, mendengar keluh kesahnya, dan mendampingi hingga proses advokasi hukum,” jelasnya.
Di tengah meningkatnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, Fatayat NU Kalimantan Selatan terus menjalin koordinasi dengan lembaga pemerintah dan aparat penegak hukum. Beberapa kasus yang ditangani bahkan telah memasuki tahap pendampingan oleh lembaga pemberdayaan perempuan dan anak di lingkungan Fatayat NU.
Melalui pelantikan dan pembukaan LKL ini, Fatayat NU Kalimantan Selatan menegaskan tekadnya untuk terus hadir, bergerak, dan memberi harapan—menjadi ruang aman serta kekuatan bagi perempuan dan anak di seluruh penjuru Kalimantan Selatan. (DR)






