DAILYRETORIKA.ID,BANJARMASIN — Wakil Ketua DPRD Kota Banjarmasin, Mathari, mendorong agar pembelajaran tatap muka (PTM) bagi para pelajar dapat terus dimaksimalkan. Menurutnya, pelaksanaan pembelajaran secara langsung di sekolah perlu menjadi perhatian, terutama dengan mempertimbangkan kondisi orang tua yang harus bekerja.
Mathari mengatakan, pembelajaran tatap muka tidak hanya berkaitan dengan proses belajar mengajar, tetapi juga menyangkut aspek pengawasan terhadap aktivitas anak selama mengikuti kegiatan pendidikan.
“Kalau pembelajaran dilakukan secara tatap muka, anak-anak berada di sekolah dan ada guru yang mengawasi. Ini tentu menjadi bagian penting dalam proses pendidikan, khususnya bagi orang tua yang harus bekerja,” ujar Mathari.
Ia menilai kondisi tersebut berbeda ketika anak mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ) dari rumah. Ketika orang tua harus meninggalkan rumah untuk bekerja, pengawasan terhadap aktivitas anak menjadi lebih terbatas.
“Kalau anak belajar dari rumah, sementara ayah dan ibunya sama-sama bekerja, tentu ada waktu ketika anak berada di rumah tanpa pengawasan langsung dari orang tua. Ini yang juga harus kita pikirkan,” katanya.
Menurut Mathari, salah satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah penggunaan telepon seluler oleh anak. Saat berada di rumah tanpa pengawasan langsung, anak berpotensi menggunakan telepon seluler untuk mengakses berbagai hal di luar kegiatan pembelajaran.
“Misalnya penggunaan handphone. Kalau orang tua tidak berada di rumah, kita tentu tidak bisa mengawasi secara langsung anak itu menggunakan handphone untuk apa. Karena itu, pengawasan menjadi penting,” jelasnya.
Mathari menegaskan, pembelajaran tatap muka dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu memastikan proses pendidikan sekaligus pengawasan terhadap anak berjalan lebih optimal.
“Bukan berarti pembelajaran jarak jauh tidak bisa dilakukan. Tetapi kita harus melihat kondisi di lapangan. Kalau memang orang tua sama-sama bekerja, maka pembelajaran tatap muka perlu dimaksimalkan karena anak berada di lingkungan sekolah dan bisa mendapatkan pengawasan dari guru,” tuturnya.
Ia kemudian mencontohkan kondisi orang tua yang harus berangkat bekerja lebih pagi dibandingkan waktu dimulainya kegiatan sekolah.
“Contohnya sekolah baru masuk pukul 09.00 WITA, sementara ayah dan ibunya sudah harus berangkat bekerja sekitar pukul 08.00 WITA. Ada jeda satu jam. Selama satu jam itu anak berada di rumah dan orang tua tidak ada. Nah, bagaimana pengawasannya? Ini yang perlu kita pikirkan bersama,” ungkapnya.
Menurutnya, kebijakan terkait pembelajaran sebaiknya tidak hanya melihat dari sisi proses belajar, tetapi juga memperhatikan kondisi keluarga dan aktivitas orang tua.
“Jadi, kita berharap kebijakan pendidikan ini juga melihat kondisi orang tua. Jangan sampai anak ditinggal di rumah sementara kedua orang tuanya bekerja. Pendidikan tetap harus berjalan, tetapi pengawasan terhadap anak juga harus diperhatikan,” pungkas Mathari. (DR)








